Kamis, 08 Juli 2021

Batik Aceh (CB Batik)akan bangun pabrik batik

 

Batik merupakan salah satu produk tekstil hasil karya tradisional bangsa Indonesia. Hampir setiapdaerah di Indonesia memiliki hasil karya batik dengan kekhasan motifnya. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak ragam kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan dan dijaga kualitasnya. Pengukuhan batik sebagai warisan budaya tak benda oleh United Nations Educational, Scientific, and CulturalOrganization (UNESCO) tahun 2009 memberikan kebanggaan sekaligus tantangan bagi pemangku kepentingan di Indonesia. Bukan saja sebagai warisan budaya tetapi batik memiliki nilai ekonomi dan dapat menghidupi para pengelola usaha, perajin, maupun pedagang. Disadari bahwa batik dapat memberikan kontribusi yang besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Untuk itu, pelestarian dan perkembangan usaha batik harus meningkatkan hasil karya dengan kualitas dan ciri khas daerah agar mendapat dukungan dari semua pihak.




Batik Aceh  adalah suatu produk kerajinan kain yang memiliki gambar atau motif yang memiliki ciri khas kebudayaan Aceh. Gambar atau motif yang dipakai memiliki makna tersendiri berdasarkan kebudayaan warisan endatu. Sehingga hanya di masyarakat aceh pula yang memiliki passion yang tinggi yang dapat membuat pola motif dan design yang dimodifikasi tanpa menghilangkan unsur dasar keunikan ragam etnik aceh.




Untuk meningkatkan daya saing usaha nasional agar tidak semakin merosot, Indonesia harus mengantisipasi kelemahan kompetensi usaha tanah air agar dapat lebih ditingkatkan baik kompetensi perusahaan maupun kompetensi sumber daya manusianya. Beberapa kelemahan kompetensi yang mengemuka seperti banyaknya perusahaan yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinovasi. Oleh sebab itu, perkembangan teknologi yang menyentuh pada perusahaan tradisional sebagai kekuatan lokal belum sepenuhnya dapat diikuti dengan kemampuan dan keterampilan tenaga kerjanya. Hanya usaha yang memiliki daya saing yang tinggi yang akan mampu bertahan dan berkembang menghadapi persaingan global (Nugrayasa, 2014:47).




Di sisi lain sosial kultural dan daya saing juga mempengaruhi perkembangan produktifitas batik di beberapa wilayah yang saat ini memproduksi batik cap dan tulis seperti Banda Aceh, Aceh Besar dan Lhoksemawe kurang sesuai untuk mengembangkan usaha batik, dimana masyarakat aceh sebagian besar memiliki harta pusaka untuk digarap sebagai lahan pertanian atau belum terbiasanya mengenal batik sehingga belum memiliki passion dalam membatik, bahkan usaha batik saat ini juga belum stabil permintaannya sehingga membuat masyarakat sulit bertahan jika hanya mengandalkan membuat batik. Salah satunya adalah batik yang dihasilkan adalah batik cap dan batik tulis dengan pengerjaan yang masih traditional sehingga membutuhkan waktu yang lama, dan harganya juga relatif tinggi, belum sesuai dengan kantong masyarakat menengah kebawah.



Batik yang lebih murah banyak diproduksi di Jawa atau daerah lain disebabkan oleh proses produksi menggunakan mesin, dengan mesin proses produksi tidak akan sulit dan lama sehingga biaya produksi tidak mahal dan berbanding lurus dengan harga kain atau bahan lebih murah pula. Sedangkan batik tulis seperti di Aceh dalam proses pembuatan atau produksinya membutuhkan waktu lama dan ketelitian, batik tulis ini membutuhkan pengrajin yang telaten dalam melukis batik-batik di atas kain agar terlihat indah dipandang mata. Dalam proses pembuatan kain batik seorang pengrajin harus melakukannya dengan fokus pada satu kain saja, sehingga seorang pengrajin tidak dapat membuat kerajinan batik sekaligus dua atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Satu kain batik tulis bisa saja terselesaikan oleh satu orang pengrajin dalam kurung waktu satu minggu. hal inilah yang menyebabkan batik tulis mahal di pasaran.



Kenyataan bahwa mahalnya batik tulis telah menurunkan peminat pembeli dalam dunia pasar, ini terjadi karena target pasar menginginkan barang yang kualitas tinggi tetapi harga semuruh-murahnya, sehingga permintaan akan melambung tinggi. Jika pengrajin batik ini menemukan solusi dari hambatan dalam mengembangkan usahanya dan dapat mencapai target pasaran maka permintaan terhadap batik tulis dapat melambung tinggi, sebagaimana permintaan batik-batik yang dipesan oleh pemerintah daerah ke Jawa tersebut. Pengrajin batik di Panyakalan mengatasi masalah mahalnya batik tulis dengan cara membuat bahan dan baju batik dengan cara cetak, pada saat ini mereka memproduksi lebih banyak jenis batik cetak dibandingkan jenis batik tulis tetapi omset tetap mengalami penurunan.



Ada beberapa tingkatan bahan baku batik mulai dari cotton, dan sutera yang digarap karena bisa di lakukan pewarnaan alam. Namun harganya tentu relatif mahal karena bahan bakunya berasal dari pulau jawa. Namun, batik dengan bahan polly cotton, hingga polister lebih laku dipasaran karena harganya lebih murah, namun produk tersebut berasal daru luar aceh. Sehingga tetap saja, apabila batik cap dan batik tulis di produksi di aceh, belum dapat memnuhi permintaan masyarakat. Disi lain,  Saat ini, Aceh memiliki permasalahan yang sangat komplit salah satunya adalah kemandirian secara fiskal yang erat korelasinya dengan pengangguran. Sehingga apabila dibuka pabrik bahan dan pabrik produksi batik, maka akan menyerap tenaga kerja, dan aceh perlahan bergerak menuju kemandirian secara fiskal dari kebutuhan sandang dan dapat mengurangi pengangguran



Atas dasar itu, kami CB Management berusaha memulai melakukan perencanaan matang untuk membuka pabrik bahan baku, rajut, benang serta garment  skala kecil dengan segala bidang yang telah direncanakan dibuka di Majalaya, Bandung dan Tasikmalaya, sehingga tempo masa 2 tahun kami dapat membuka hal yang sama tersebut di Aceh dengan izin yang dimudahkan serta tempat yang dialokasikan oleh pemerintah agar tidak mengganggu masyarakat mengingat setiap pabrik menghasilkan limbah.

Tidak ada komentar:

BATIK ACEH MENUSANTARA

 Walaupun aceh tidak terkenal dengan  batiknya, namun siapa sangka bahwa batik motif aceh yang di design oleh Mihalul Abrar dengan mengkombi...